MANUSIA ALGORITMA Teaching in Higher CEC

Rp 53.000

Di era komunikasi digital saat ini, algoritma menjadi “arsitek sunyi” dari pengalaman sosial. Ia menentukan konten yang kita lihat, memperkuat kelompok sosial yang kita ikuti, dan membentuk ekosistem informasi yang sangat personal namun terfragmentasi. Algoritma menyederhanakan dunia menjadi pola-pola preferensi, dan dalam proses itu, ia membentuk ruang yang dikenal sebagai ‘echo chamber’. Di sinilah stereotipe sosial, bias, dan pemisahan identitas tumbuh tanpa disadari, karena algoritma mengutamakan kenyamanan kognitif daripada keberagaman perspektif. Hal ini menjadi
penting karena mengenali kerja algoritma bukan hanya soal teknis digital, tetapi juga soal ketahanan berpikir dan etika interaksi.
Dalam kacamata iman Kristiani, kajian tentang manusia algoritma menantang kita untuk merefleksikan ulang relasi antara kebebasan manusia, kebenaran, dan kasih. Di satu sisi, algoritma dapat membantu manusia mengakses informasi dan memperluas wawasan. Namun di sisi lain, ia juga berpotensi mengurung manusia dalam logika seleksi yang mengabaikan martabat sesama dan menumpulkan kepekaan spiritual. Firman Tuhan mengajarkan bahwa manusia adalah gambar Allah, bebas untuk mengasihi, berpikir, dan berelasi secara utuh (Kejadian 1:27). Maka, pro dan kontra dari manusia algoritma harus dilihat secara kritis: apakah teknologi ini memanusiakan manusia, atau justru menggeser manusia menjadi entitas yang terikat pada validasi algoritmik? Pertanyaan ini akan menjadi titik tolak dalam paparan selanjutnya.

SKU: IPNU 115 Kategori: Tag: Brand: